"We cannot be saved by the men digging graves in desperate times"
-Desperate Measures-
Dua tahun terakhir adalah masa-masa kelam bagi penduduk bumi. Meskipun banyak dari kita berhasil melaluinya, namun memori atas rasa kebingungan luar biasa yang dialami saat itu tak ayal masih tetap tersimpan di benak. Rasa frustasi akibat pandemi, pecahnya keseimbangan sosial, dan ketidakadilan penguasa meskipun di tengah bencana besar adalah contoh hiruk pikuk yang terekam di album Every Time I Die tahun 2021, "Radical".
Di album ini, Every Time I Die tetap mempertahankan genre southern-metalcore rumit ciri khas mereka. Namun disini, Every Time I Die semakin mahir memadukan musik yang ganas dengan melodius dan tetap menyajikannya dengan segar dan menakjubkan.
Jordan Buckley dan Andy Williams selaku duel gitaris maut seakan tidak pernah kehabisan riff untuk menggoncang album ini, dari kebrutalan ("Distress Rehearsal"), kerumitan ("Planet Shit"), hingga keanggunan ("Thing With Feathers") semua mereka libas dengan sempurna. Duo penjaga ritem Steve Micciche dan Clayton Holyoak juga patut diacungi dua jempol atas kinerja mereka di sini, terutama Clayton yang di album pertamanya bersama Every Time I Die ini langsung unjuk gigi menyaingi para pendahulunya dengan menghentak drum layaknya maniak namun bisa tetap menyeimbangkan laju lagu.
Melanjutkan tradisi mereka di album-album sebelumnya, Radical menunjukkan Every Time I Die bermain di luar zona nyaman mereka. "Sly" bermain dengan harmoni vokal ala Queen, "Desperate Measures" memasukkan unsur doom yang cocok dengan tema keputusasaan dibalik lagu ini, "We Go Together" menyempurnakan unsur progressive yang di album sebelumnya dimainkan dengan baik di lagu "Religion of Speed", namun dua contoh terbaik bisa dilihat di lagu "White Void" dan "Thing with Feathers".
Di "White Void", Every Time I Die bermain dengan laju slow-burning yang semakin lama semakin menyingkap hook-hook catchy dibaliknya, sedangkan "Thing with Feathers" menggabungkan sisi post-rock dan kemegahan balada yang menghadirkan vokal lembut Andy Hull (Manchester Orchestra) melengkapi vokal bersih Keith Buckley dengan apik.
Dari segi vokal dan lirik, Keith Buckley tetap menawarkan performa terbaiknya dengan raungan buasnya melantunkan lirik-lirik tajam khasnya yang dapat mencerminkan sinis ("You got an atheist praying for a judgement day"), marah ("There's no law when the outlaw wears a badge"), hingga keputusasaan ("Fear is a fetish and I am a masochist"). Tidak cukup disitu, di sini Keith semakin baik melantunkan vokal bersihnya dengan ciamik, seperti yang ditunjukkan di lagu "Post-Boredom" dan "White Void".
Dengan jumlah 16 track yang berdurasi 50 menit, mudah untuk menganggap album ini banyak celahnya, namun Radical sudah distruktur sedemikian rupa agar satu track mengalir ke track lain dengan rapih dan membuat pendengarnya tetap meminta lebih.
Penggabungan sempurna antara musikalitas yang agresif nan ketat dan vokal yang tidak kalah galaknya dengan takaran eksperimental yang pas didalamnya membuat Radical layak mendapatkan predikat salah satu album metal terbaik 2021 dan menjadi puncak terbaru bagi Every Time I Die untuk dikalahkan, terlebih mengingat band ini telah berjaya selama 20 tahun dan sejauh ini tidak pernah kekeringan ide-ide liar berikutnya yang siap untuk ditumpahkan...
...sampai pada awal tahun ini, dimana Every Time I Die memutuskan untuk bubar secara mendadak. Meskipun hingga saat ini saya masih tidak percaya, namun menurut saya Radical sudah pas mengakhiri perjalanan Every Time I Die lewat ambisi musikalitas yang ditunjukkannya.
Must-hear : "Post Boredom"
Jika ada satu lagu yang wajib didengarkan dari Radical, saya memilih "Post-Boredom". Ciri khas Every Time I Die ada disini : musiknya yang berenergi, liriknya yang sinis, dengan ditambahkan dosis catchiness yang oke dan breakdown yang lezat membuat lagu ini menjadi salah satu lagu Every Time I Die, bahkan metal terbaik yang pernah saya dengar.


Comments
Post a Comment