Skip to main content

Rencana Mulia Dinda di Hungaria untuk Indonesia

 

Kamis, 5 Agustus 2021

Siapa mahasiswa yang tidak bermimpi untuk ikut andil dalam program pertukaran mahasiswa? Rasanya sedikit sekali, karena program ini bisa jadi ajang mahasiswa menambah pengalaman dan keahlian baru untuk masa depan yang lebih baik.

Tahun ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) membuka program beasiswa pertukaran mahasiswa ke luar negeri yang bertajuk Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA).

Salah satu mahasiswa yang sukses terdaftar program IISMA adalah Kadek Dinda Suganda atau yang lebih akrab disapa Dinda. Dinda yang berkuliah di Universitas Esa Unggul, Jakarta berkesempatan menuntut ilmu selama satu semester di University of Szeged, Hungaria.

“Dari SMP gue emang udah tertarik banget sama negara Hungaria, karena Hungaria termasuk negara yang sangat tenang. Bahkan Hungaria sempat jadi negara nomor 1 yang sudah herd immunity saat pandemi.” ujar Dinda mengenai alasannya memilih Hungaria sebagai tempat pilihan utama.

Dinda lalu menjelaskan proses seleksinya mengikuti IISMA. “Ada dua tahapan seleksi. Pertama adalah seleksi berkas, seperti surat rekomendasi kampus, dokumen pribadi, IPK, essay, sertifikat penghargaan, dan sertifikat English Proficiency Test. Seleksi kedua dilakukan lewat wawancara.”

“Nah, sebelum proses seleksi ini, kita harus lolos seleksi internal di Esa Unggul dulu agar dapet surat rekomendasi dari kampus. Kita perlu buat motivation letter dalam bahasa Inggris dan memenuhi English Proficiency Test sesuai standar nilai yang sudah ditentukan IISMA. Setelah lolos seleksi, kita bakal dapet surat rekomendasi kampus yang bisa dipake buat ikut seleksi IISMA di websitenya. Calon peserta bebas milih kampus negara tujuan dan juga pelajaran yang diminati.”

Agar bisa lolos program pertukaran mahasiswa seperti dirinya, Dinda turut membagikan kiat-kiatnya. “Siapin sertifikasi resmi Bahasa Inggris, terus sering latihan biar fasih. Perbaiki IPK juga dan jangan lupa aktif dalam kegiatan organisasi sama kepanitiaan. Kalo punya skill tertentu, terus asah dan kembangin. Caranya bisa ikut lomba dan segala macemnya, pokoknya banyakin achievements.

Selain berkuliah, Dinda ternyata juga membawa rencana mulia selama di Hungaria. “Gue berencana mengadakan kegiatan pertukaran budaya, untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke ranah internasional. Selain itu, gue berniat mengikuti english debate club untuk mengetahui sudut pandang dari mahasiswa lokal Hungaria dan mahasiswa internasional disana terkait suatu isu. Dan yang tak kalah penting, gue akan membuat journal research yang membahas tentang perbedaan sistem pendidikan antara Hungaria dan Indonesia” ujar Dinda.

Dengan suksesnya Dinda masuk program pertukaran mahasiswa yang dibarengi niat mulianya selama di Hungaria, mari kita doakan bersama semoga apa yang telah direncanakan oleh Dinda bisa berjalan dengan lancar dan semoga kita punya kesempatan yang sama seperti Dinda, Aamiin.


Comments

Popular posts from this blog

REVIEW Every Time I Die - Radical (2021) : Goresan Kegeraman dan Kecemasan dibalik Ketidakpastian

 "We cannot be saved by the men digging graves in desperate times" -Desperate Measures- Dua tahun terakhir adalah masa-masa kelam bagi penduduk bumi. Meskipun banyak dari kita berhasil melaluinya, namun memori atas rasa kebingungan luar biasa yang dialami saat itu tak ayal masih tetap tersimpan di benak. Rasa frustasi akibat pandemi, pecahnya keseimbangan sosial, dan ketidakadilan penguasa meskipun di tengah bencana besar adalah contoh hiruk pikuk yang terekam di album Every Time I Die tahun 2021, "Radical". Di album ini, Every Time I Die tetap mempertahankan genre southern-metalcore rumit ciri khas mereka. Namun disini, Every Time I Die semakin mahir memadukan musik yang ganas dengan melodius dan tetap menyajikannya dengan segar dan menakjubkan. Jordan Buckley dan Andy Williams selaku duel gitaris maut seakan tidak pernah kehabisan riff untuk menggoncang album ini, dari kebrutalan ("Distress Rehearsal"), kerumitan ("Planet Shit"), hingga keanggu...

Asyiknya Healing di Taman Hijau Medang Lestari

  Sabtu, 19 Juni 2021 Penerapan PPKM Mikro yang terus berlanjut membuat mobilitas warga menjadi terbatas. Hal ini tak ayal membuat warga cepat merasa jenuh. Kejenuhan yang terus dibiarkan akan berdampak pada melemahnya kondisi fisik dan mental yang dapat membuat daya tahan tubuh gampang turun. Dalam menjaga kedua hal tersebut, mayoritas warga perumahan Medang Lestari, Kabupaten Tangerang, Banten memilih Taman Hijau Medang Lestari sebagai tempat andalan. Dipilihnya tempat ini mempunyai alasan tersendiri. Selain karena tempatnya yang luas, fasilitas di tempat ini terbilang lengkap dan lokasinya yang berada di tengah perumahan Medang Lestari menjadikannya terjangkau bagi seluruh warga perumahan Medang Lestari. “Jujur, saya bosen nge- zoom melulu ” ucap Rifaldi, 18, sambil menyeka keringatnya setelah selesai berolahraga. “Taman ini emang berguna banget sih bagi saya, kalo lagi penat saya langsung ke sini, entah itu jogging buat nyari keringat, atau sekadar  nikmatin al...